Sabtu, 19 September 2015

Hati yang Merindu^^



Awal yang sederhana. Hal yang awalnya biasa menjadi terbiasa. Terbiasa menjadi kebiasaan. Hingga akhirnya luar biasa. Tak bisa dijelaskan darimana datangnya itu, senyumnya, gayanya, tingkahnya, sikapnya bahkan diamnya,  ah sulit dijelaskan. Tak ada hal lain yang bisa dijelaskan tapi cukup memberikan arti bahwa kamu suka.

Hati bertanya tanya, ketika kabar tak kunjung datang. Keanehan mulai merasukimu. Seakan akan hal yang terjadi belakangan ini telah membuatmu kecanduan. Tentang kau. Tentang dia. Sebut saja tentang kita.

Mencoba tak menaruh harapan lebih. Mencoba menahan bayangan yang semakin dekat. Namun harapan itu terus mengalir seolah tanpa jeda. Padahal kau tau harapan itu hanyalah abu-abu yang mungkin akan segera menjadi putih dan menghilang. Namun semakin mengalir, semakin indah untuk dinikmati. Dan kau mulai mengerti bahwa kau tengah merindu.

Tak ada yang boleh tau akan hal ini. Tak ada yang diizinkan melihat kerinduanmu itu. Temanmu, sahabatmu, kenalanmu, juga orang yang tak kau kenal sama sekali bahkan dirinya. Hanya kau dan Sang Pemberi Rasa yang boleh tau. Bukan tanpa alasan. Hanya saja sebagai antisipasi belaka ketika kekecewaan itu muncul. Bagaimanapun menaruh rindu pada orang yang bukan siapa-siapa bagimu tak lebih menyenangkan dibanding mendapat undian liburan ke Jepang.

Kau merindu dalam diam. Menyimpan rasa dalam senyum. Dan tentu kau sangat menikmati. Terasa lucu dan menggemaskan. Aneh namun membahagiakan. Karna kau tau, kau tengah merindu ^^


By : bye fever :p

Embun Pagi^^


Pagi hari memang waktu yang tepat untuk menikmati segala permulaaan hidup. Burung burung yang mulai beterbangan mencari sesuap makanan. Bunga-bunga yang mulai menyerbakkan aroma wewangian. Tak luput, embun pagi yang membasahi siapapun yang ia temui. Yah! Pagi memang terlalu indah untuk diasingkan.



Embun di pagi hari pula yang mengantarkan segala pemikiran keluar. Mengalir begitu mudah. Dan tak pernah terduga. Sel-sel otak begitu cepat berputar. Meluapkan segala yang ada di dalamya. Semua mengalir bagai air yang tak menemui tumpukan sampah yang akan meghambat sedikit jalannya. Itulah mengapa pagi adalah waktu yang tepat untuk mengerjakan tugas :D Ditemani secangkir kopi hitam dengan sedikit gula ditambah secuil biskuit. Nikmatnyaaaa J

Namun, disaat sang embun mulai membuka jalan bagi semua pemikiran didalamnya. Sel-sel otot dipaksa untuk bekerja. Memulai rutinitas hariannya. Meninggalkan syaraf otak yang hampir selesai memproses pasport penerbangan. Lagi-lagi harus delay!!!

Dan kau tau? Berapa lama syaraf otak dapat menampung segala pemikirannya? Sebelum sebuah pena menjemput dan mengantarkannya pulang? Begitu cepat!

Sepertinya aku butuh alat perekam memori :/

By : bye fever :p

Semacam Ungkapan “Happy Wedding Mas Bro”



Hari ini tepat tanggal 16 September 2015 (setidaknya tulisan ini dibuat, mungkin sedikit telat dalam melakukan posting) merupakan hari bersejarah bagi sohibku. Ciie yang berhasil move on dan married :D

Kita memang tak pernah tau siapa jodoh yang dipilihkan Sang Penguasa alam. Seberapa besar perasaan yang kita berikan kepada ‘someone’ tapi kalo memang namanya tidak tertulis di Lauhul Mahfuz hanya akan menambah deretan mantan saja :D Walaupun dua sejoli sama-sama mempunyai perasaan yang sama, bertekad menyatukan komitmen namun jika pelabuhan terakhir cintanya berbeda tentu saja tak bisa menepi pada satu pelabuhan yang sama.

Sebaliknya, meskipun awalnya kita sama sekali tidak menyukainya, tidak menaruh perasaan lebih padanya, jika memang Tuhan telah menulis namanya untuk kita pasti ada saja yang membuat kita bersatu. Tak peduli berapa jarak yang ditempuh, seberapa lautan yang kau seberangi dan seberapa gunung yang kau daki. Yah! Tulang rusuk dan pemiliknya memang tak bisa tertukar :D

Pelajaran Berharga dari Perempuan Paruh Baya^^




Panas masih menyerang bumi ketika aku memutuskan untuk mengayuh sepedaku menuju kampus. Meskipun ini masih hari libur, namun ada beberapa alasan aku mengunjungi tempat itu. Rumah yang tak dihuni beberapa lama akan menjadi asing nantinya jika tidak segera dibiasakan.
Jalan yang kulalui masih sama. Toko-toko kecil masih berjejer rapi di tempatnya.  Yah! Mereka mengingatkanku akan suatu masa disaat hari libur begini.

Salah satu toko itu pernah membuka lebar pintunya untukku. Bukan menyambutku. Lebih kepada menyuruhku untuk membersihkan seluruh ruangan disana. Menyapa pelanggan dan merapikannya kembali. Sungguh manis jika menengoknya kembali. Menunggu pelanggan yang tak kunjung datang hingga rasa kantuk menyerang. Berbagi kisah dengan mereka yang senasib denganku sembari menunggu jam kerjaku usai dan kembali ke rumah. 

Namun kenangan manis itu sedikit terasa pahit ketika perempuan paruh baya mencoba mengusik ketenanganku. Gaya bicaranya yang memang ‘keras’ sedikit membebani. Sebelum akhirnya aku sadar perempuan itu memang pantas melakukannya. Seorang bos.

Menulis Untuk Keabadian


Bagaimana harimu? Share with me! 



Dulu menulis adalah bagian dari hidupku. Tidak ada waktu luang. Tak ada waktu terbuang sia-sia. Read and write! Membaca apa yang kulihat. Menulis apa yang kurasa. Haha itu dulu :D
Sebelum waktuku habis dilahap PR. Musnah digulung tugas. Dan lenyap ditelan waktu.
Sebelum kegiatan demi kegiatan berhamburan memenuhi sela-sela hariku.
Sebelum tanggung jawab semakin besar.
Yyayaya sebelum sebelum dan sebelum :p

Ketika semua waktu, tepatnya hampir semua :D dihabiskan diluar rumah. Dan sekolah menjadi rumah kedua bagiku. Pergi pagi pulang pagi #et dahh :D Tak ada waktu untuk menorehkan gerutuan dan unek_unek yang kian lama kian menggebu-gebu :P

Gak ada waktu!
Buat apa juga nantinya!
Gak ada gunanya!
Eitss celotehan konyol :P

But! Belum lama ada buku yang berhasil menginspirasi.
Menyadarkan betapa pentingnya sebuah tulisan.
Betapa hebatnya tulisan itu di masa mendatang.
Apa pun itu. Yang jelas akan membuat masa lalu seakan terulang kembali.

Novel ‘ibuk,’ karya Iwan Setyawan yang selain memberikan gambaran akan perjuangan seorang ibu tapi juga memberikan gambaran betapa pentingnya sebuah tulisan. Membuat kita tak akan hilang begitu saja dari sejarah. Meski nama kita tak pernah terpampang di sambul buku, setidaknya turunan kita akan melihatnya kelak lewat tulisan tangan yang kian usang dimakan rayap :p #usia yye

Ini aku share kalimat yang berhasil menggugah hati :D

Menulis membebaskanku. Membesarkanku. Memberanikanku.
Aku menulis untuk membaca kehidupan.
Aku menulis untuk berkaca.
Aku menulis untuk melepaskan air mata.
Aku menulis untuk menjadikanku manusia.
Aku menulis untuk membunuh malam.
Aku menulis untuk memaknai hidup.
Aku menulis untuk bersyukur.
Aku menulis karena menulis menyembuhkan.
Aku menulis untuk merapikan masa lalu.
Aku menulis karna kata kata bisa menguatkan.
Aku menulis untuk menggali hati nurani.

Book Review “Ibuk” by Iwan Setyawan


“Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah pijakanmu kuat.”
-ibuk-

Masih belia usia Tinah saat itu. Suatu pagi di Pasar batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot, seorang playboy pasar, yang berambut klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata. Keduanya menikah, merekapun menjadi ibuk dan Bapak.

            Lima anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor dikala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin indah.

            Ibuk, novel karya penulis national best seller Iwan Setyawan, berkisah tentang sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti pepohonan yang menutupi kegersangan dan memberi napas bagi kehidupan.

***

Book Review >> Long Lost ‘Yang Lama Hilang’ by Harlan Coben


 “Mungkinkah teknologi menghidupkan kembali seorang anak yang telah lama mati dan menjadikannya pribadi yang sama sekali berbeda?!”

            Myron Bolitar adalah seorang agen yang memanajeri para atlet dan selebriti. Profesinya tersebut menyeret Myron dalam berbagai petualangan menegangkan dan penuh teka teki. Kini, Myron mencoba menolong Terese Collins, seorang wanita yang pernah mengisi hatinya sepuluh tahun lalu. Terese tengah kehilangan semangat hidup setelah putrinya meninggal. Celakanya, Terese malahan dihadapkan pada peristiwa yang lebih sulit. Ia dituduh membunuh mantan suaminya. Dalam penyelidikan, Myron dihadapkan pada sebuah fakta yang tak masuk akal. Mungkinkah putri Terese yang mati hidup kembali?! Satu teka-teki mengantar pada teka-teki lain yang lebih besar dan melibatkan satu kelompokteroris jaringan Internasional. Myron dan Terese pun dipaksa untuk terus berlari dari ancaman maut.




Judul                   : Long Lost ‘Yang Lama Hilang’
Penulis                : Harlan Coben
Jumlah Hal          : 398 halaman
ISBN                    : 30.889.000.30
Penerbit              : Erlangga
Penerjemah        : Afrin Aulia
Editor                  : Johanes Trihartanto
Cover                  : Sony Sonatha