“Seperti sepatumu ini, Nduk. Kadang kita mesti
berpijak dengan sesuatu yang tak sempurna. Tapi kamu mesti kuat. Buatlah
pijakanmu kuat.”
-ibuk-
Masih belia usia Tinah saat
itu. Suatu pagi di Pasar batu telah mengubah hidupnya. Sim, seorang kenek angkot,
seorang playboy pasar, yang berambut
klimis dan bersandal jepit, hadir dalam hidup Tinah lewat sebuah tatapan mata.
Keduanya menikah, merekapun menjadi ibuk
dan Bapak.
Lima
anak terlahir sebagai buah cinta. Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh
perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor dikala hujan,
biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan
dihadapi ibuk dengan tabah. Air matanya membuat garis-garis hidup semakin
indah.
Ibuk, novel karya penulis national best seller Iwan Setyawan,
berkisah tentang sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan
sederhana yang perkasa. Tentang sosok perempuan bening dan hijau seperti
pepohonan yang menutupi kegersangan dan memberi napas bagi kehidupan.
***


